ANALISIS KEMISKINAN SPASIAL DAN PEMETAAN SEKTOR BASIS DI PROVINSI PAPUA PEGUNUNGAN
Keywords:
Kemiskinan Struktural, Wilayah Otonom Baru, Sektor Basis, Location Quotient, Papua PegununganAbstract
Persistensi kemiskinan di Wilayah Otonom Baru hasil pemekaran merupakan tantangan struktural yang memerlukan strategi pengentasan berbasis optimalisasi sektor potensial lokal. Berdasarkan analisis deskriptif, Provinsi Papua Pegunungan menempati urutan tertinggi dalam persentase kemiskinan di Indonesia yang mencapai 26,34 persen, diperparah oleh indeks Garis Kemiskinan tertinggi akibat isolasi geografis pedalaman. Penelitian ini bertujuan untuk membedah profil kemiskinan tersebut secara spasial dan mengidentifikasi sektor ekonomi yang menjadi basis keunggulan komparatif wilayah. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif analitis yang diintegrasikan dengan analisis ekonomi regional melalui model Location Quotient (LQ) menggunakan data sekunder makro tahun 2025 dari Badan Pusat Statistik. Hasil analisis deskriptif mengonfirmasi urgensi rekonstruksi ekonomi di lokus penelitian akibat tingginya biaya logistik. Sementara itu, analisis LQ berhasil menyaring tujuh sektor basis utama yang memiliki spesialisasi wilayah tinggi (LQ > 1), yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan; konstruksi; transportasi dan pergudangan; real estat; jasa pendidikan; jasa kesehatan; serta administrasi pemerintahan yang mencatatkan nilai tertinggi sebesar 6,32. Temuan ini menunjukkan bahwa spesialisasi perekonomian Papua Pegunungan bertumpu kuat pada sektor pemerintahan, pembangunan fisik, dan pelayanan dasar. Pemerintah daerah disarankan untuk mengoptimalkan keunggulan komparatif sektor-sektor basis ini serta mengintegrasikannya dengan kebijakan perluasan kesempatan kerja produktif guna menciptakan akselerasi pengentasan kemiskinan yang inklusif dan berkelanjutan.
Downloads
References
Arsyad, L. (2005). Pengantar perencanaan dan pembangunan ekonomi daerah. BPFE.
Badan Pusat Statistik Provinsi Papua. (2026). Indikator penting Provinsi Papua Pegunungan, edisi Maret 2026. Badan Pusat Statistik Provinsi Papua.
Badan Pusat Statistik RI. (2026). Persentase penduduk miskin Maret 2026 turun menjadi 8,07 persen (Berita Resmi Statistik No. 56/08/Th. XXIX). Badan Pusat Statistik.
Belolon, H. K. (2025). Papua Pegunungan dalam bayang-bayang inflasi: Telaah kritis atas fenomena dependensi dalam bingkai ekonomi politik. Jurnal Ilmu Perekonomian, 3(2), 88–101.
BPS. (2025). PDRB provinsi di Indonesia. Badan Pusat Statistik.
Dirgahayu, A. (2025). Analisis komoditas basis dan unggulan [Dokumen tidak diterbitkan].
Glasson, J., & Marshall, T. (2007). Regional planning. Routledge.
Indonesia, R. (2011). Rencana induk percepatan pembangunan infrastruktur dan pengembangan ekonomi lokal Papua. Kementerian PPN/Bappenas.
Kakwani, N., Khandker, S., & Son, H. H. (2004). Pro-poor growth: Concepts and measurement with application to Vietnam (Working Paper No. 38). International Poverty Centre.
Kaparang, V. W. P. (2025). Identifikasi sektor unggulan Kabupaten Minahasa: Analisis dengan pendekatan Location Quotient (Lq). Jurnal Ilmiah, 1(5), 99–105.
Malacoppo, G., Idris, M., & Syam, S. F. (2026). Analisis sektor basis dan non basis terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Palopo Analysis of base and non-base sectors in economic growth in Palopo City. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Digital, 4(1), 136–148.
Mulia, F. S., & Rosalia, A. C. T. (2025). Analisis sektor unggulan dan pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan. Journal of Economics Research and Policy Studies, 5(1), 261–276.
Prasetyo, A. B. (2026). Kajian kedalaman kemiskinan di Provinsi Papua dan Papua Barat menggunakan indeks Foster-Greer-Thorbecke. Prosiding Seminar Nasional Official Statistics, 2026(1), 512–523.
Richardson, H. W. (1978). Regional economics. University of Illinois Press.
Romadhon, M. A., & Santosa, P. B. (2026). Analysis of the determinants of poverty in the Province of Papua. International Journal of Economics, Management and Accounting, 14(2), 798–812.
Salim, A. (2026). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan di Provinsi Papua dan Papua Barat. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu, 6(1), 65–78.
Sen, A. (1999). Development as freedom. Oxford University Press.
Tarigan, R. (2005). Ekonomi regional: Teori dan aplikasi (Ed. Revisi). Bumi Aksara.
Tempo.co. (2025, Juli 20). Here are the Indonesian provinces with the highest poverty rates. tempo.co
Todaro, M. P., & Smith, S. C. (2009). Economic development (10th ed.). Pearson Addison-Wesley.
Todaro, M. P., & Smith, S. C. (2015). Economic development (12th ed.). Pearson.
Wakur, P., Kumenaung, A. G., Manuel, G., & Kawung, V. (2025). Analisis struktur ekonomi dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lanny Jaya. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, 25(5), 138–148.
Wanimbo, E., & Handoyo, S. (2025). Unpacking poverty determinant in Papua with economic growth and special autonomy funds. Journal of Development Economics and Social Studies, 4(1), 12–25.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Bagus Adhitya, Zumaeroh, Heris Kencana

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.


